Sejarah dan Perkembangan The Sims vs Roblox – Halo Sobat Nonfiction minute! Kalau kamu penggemar game simulasi, dua nama besar ini pasti tidak asing di telingamu: The Sims dan Roblox. Keduanya bukan sekadar permainan biasa — mereka adalah fenomena global yang telah mengubah cara kita bermain, berkreasi, bahkan memandang dunia virtual.

Namun, perjalanan keduanya sangat berbeda.
The Sims lahir dari gagasan tentang kehidupan digital yang realistis, sedangkan Roblox muncul sebagai wadah bagi pemain untuk menciptakan dunia mereka sendiri.
Dalam artikel ini, kita akan menelusuri sejarah dan perkembangan dua raksasa dunia simulasi ini, dari awal kemunculannya hingga menjadi ikon budaya digital di era modern.


1. Awal Mula The Sims: Dari SimCity ke Kehidupan Digital

Sebelum The Sims dikenal sebagai simulasi kehidupan paling populer di dunia, ada satu game yang menjadi cikal bakalnya — SimCity.

Pada akhir 1980-an, desainer game bernama Will Wright menciptakan SimCity, sebuah game di mana pemain membangun dan mengatur sebuah kota. Game itu sukses besar dan membuka jalan bagi lahirnya ide baru: bagaimana jika pemain tidak hanya mengatur kota, tapi juga kehidupan orang-orang di dalamnya?

Dari sinilah lahir konsep The Sims.
Will Wright ingin membuat game yang menggambarkan kehidupan manusia secara digital — lengkap dengan rutinitas, emosi, hubungan, dan cita-cita. Setelah pengembangan selama beberapa tahun di bawah studio Maxis, akhirnya The Sims dirilis pada tahun 2000 oleh Electronic Arts (EA).

Game ini langsung menjadi fenomena global. Dalam tahun pertamanya, The Sims terjual lebih dari 6 juta kopi, menjadikannya salah satu game PC terlaris sepanjang masa.
Para pemain jatuh cinta dengan kebebasan yang ditawarkan: kamu bisa membangun rumah, membuat karakter unik, dan mengatur setiap aspek kehidupan mereka.


2. Evolusi The Sims: Dari Piksel ke Realitas Emosional

Kesuksesan The Sims tidak berhenti di seri pertama.
EA dan Maxis terus mengembangkan sekuel-sekuelnya dengan inovasi besar di setiap generasi:

Seiring waktu, The Sims berkembang menjadi laboratorium sosial digital, tempat pemain bisa mengekspresikan diri dan bercerita lewat kehidupan virtual.
Komunitas modder juga tumbuh pesat, menambahkan ribuan pakaian, furnitur, dan karakter baru. The Sims tidak hanya jadi game, tapi juga platform kreativitas dan identitas diri.


3. Lahirnya Roblox: Dunia Buatan Pemain

Berbeda dari The Sims yang lahir dari ide simulasi kehidupan, Roblox bermula dari visi menciptakan dunia yang dibangun oleh pemain itu sendiri.

Pada tahun 2004, dua pengembang asal Amerika, David Baszucki dan Erik Cassel, mendirikan perusahaan bernama DynaBlocks, yang kemudian berganti nama menjadi Roblox pada tahun 2005.
Visi mereka sederhana tapi revolusioner: menciptakan platform di mana siapa pun, dari anak-anak hingga orang dewasa, bisa membuat game dan dunia virtual sendiri.

Awalnya, Roblox masih sederhana — tampilan grafisnya kotak-kotak dan jumlah pemainnya terbatas. Namun kekuatan sejatinya terletak pada Roblox Studio, alat pengembang internal yang memungkinkan pemain membuat game tanpa perlu menjadi programmer profesional.

Roblox resmi dirilis ke publik pada tahun 2006, dan dari situlah dunia baru dimulai.


4. Perkembangan Roblox: Dari Proyek Kecil ke Dunia Global

Kalau kamu pernah bermain Roblox, kamu tahu betapa luasnya dunia di dalamnya. Tapi perjalanan menuju popularitas global tidak instan.

Selama satu dekade pertama, Roblox berkembang perlahan. Ia menjadi populer di kalangan anak-anak dan remaja, tapi belum dikenal luas di industri game besar.
Namun segalanya berubah sekitar tahun 2015–2018, ketika Roblox mulai mengadopsi sistem ekonomi internal berbasis mata uang digital bernama Robux.

Sistem ini memungkinkan pemain menjual item, pakaian, atau bahkan akses ke game buatan mereka. Banyak kreator muda mulai menghasilkan uang sungguhan dari karya mereka, bahkan ada yang menjadi pengembang profesional.

Pada saat pandemi COVID-19 tahun 2020, Roblox mencapai puncak popularitasnya.
Dengan miliaran jam permainan setiap bulan dan jutaan dunia buatan pemain, Roblox berubah dari sekadar platform game menjadi ekosistem digital.
Kini, Roblox punya lebih dari 200 juta pemain aktif bulanan di seluruh dunia dan menjadi salah satu platform hiburan online terbesar di planet ini.


5. Dua Jalur Inovasi: Realisme vs Kebebasan

Jika kamu perhatikan, The Sims dan Roblox berkembang dengan dua arah yang sangat berbeda tapi saling melengkapi.

The Sims berfokus pada realitas kehidupan: emosi, hubungan, pekerjaan, dan rumah tangga.
Setiap versi baru berusaha membuat dunia Sims semakin realistis, baik dari segi visual maupun perilaku karakter.

Sementara itu, Roblox tidak terikat pada realitas. Dunia di dalamnya bisa berupa apa saja — dari kota futuristik hingga taman bermain aneh di luar angkasa.
Kebebasan ini membuat Roblox menjadi laboratorium ide global, tempat lahirnya jutaan pengalaman unik.

Dari sisi pengembangan, The Sims adalah hasil kerja tim profesional, sedangkan Roblox justru dibangun oleh jutaan pemain.
Perbedaan ini menunjukkan dua filosofi besar dunia simulasi:


6. Peran Komunitas dalam Pertumbuhan

Kamu pasti tahu bahwa tanpa komunitas, sebuah game sulit bertahan lama.
Nah, baik The Sims maupun Roblox punya komunitas luar biasa yang menjadi motor penggerak utama perkembangan mereka.

Komunitas The Sims terkenal dengan kreativitas modding. Mereka menciptakan konten tambahan — dari pakaian tradisional hingga rumah modern Indonesia — yang memperkaya gameplay.
EA bahkan sering bekerja sama dengan para kreator untuk menghadirkan konten resmi yang terinspirasi dari mod populer.

Sementara itu, komunitas Roblox bahkan lebih masif dan interaktif.
Para pemain tidak hanya membuat dunia dan game, tapi juga berkolaborasi, belajar coding, dan membangun bisnis bersama.
Beberapa kreator Roblox bahkan membentuk studio profesional dan mendapat kontrak besar dari perusahaan game besar.

Inilah kekuatan komunitas dalam dunia digital modern — mereka bukan hanya penikmat, tapi juga pencipta masa depan.


7. Pengaruh Global dan Budaya Populer

Seiring waktu, The Sims dan Roblox berhasil menembus batas budaya dan generasi.

The Sims menjadi bagian dari budaya populer. Banyak youtuber dan streamer terkenal membuat seri “Life in The Sims”, di mana mereka menciptakan drama atau komedi dari karakter virtual mereka.
Game ini juga sering digunakan sebagai alat ekspresi sosial — misalnya untuk memperkenalkan keberagaman gender, budaya, dan gaya hidup.

Sedangkan Roblox menjadi fenomena sosial global, terutama di kalangan anak muda.
Roblox bukan hanya tempat bermain, tapi juga ruang sosial — semacam “metaverse” mini di mana pemain bisa bertemu, bekerja sama, bahkan menghadiri konser virtual.
Event besar seperti konser Lil Nas X dan Twenty One Pilots di Roblox menjadi bukti bahwa game kini telah berevolusi menjadi platform hiburan massal lintas negara.


8. Era Modern: The Sims 4 dan Kebangkitan Roblox

Saat ini, The Sims 4 masih menjadi salah satu game simulasi paling aktif di dunia.
EA terus memperbaruinya dengan ekspansi besar seperti Seasons, Cottage Living, dan For Rent.
Yang menarik, EA kini sedang mengerjakan proyek baru bernama Project Rene, yang disebut-sebut akan menjadi “The Sims 5” dengan pendekatan lebih sosial dan kolaboratif — bahkan mungkin mengarah ke konsep metaverse, seperti Roblox.

Sementara itu, Roblox terus memperluas jangkauan teknologinya.
Kini platform ini sudah mendukung realitas virtual (VR), AI kreatif, dan fitur sosial interaktif 3D.
Roblox juga menjalin kerja sama dengan merek besar seperti Gucci, Nike, dan Netflix untuk menghadirkan dunia digital tematik yang bisa dijelajahi pemain.

Kedua game ini jelas tidak berhenti berinovasi. Mereka terus menyesuaikan diri dengan zaman — dari dunia PC ke ponsel, dari grafis 2D ke realitas virtual.


9. Dampak terhadap Industri Game

Perkembangan keduanya telah meninggalkan jejak besar dalam industri game.

The Sims menjadi pelopor genre life simulation dan menginspirasi banyak game modern seperti Animal Crossing, Stardew Valley, hingga Paralives.
Konsep “hidup digital” yang diusung The Sims kini menjadi dasar banyak permainan yang berfokus pada pengalaman emosional.

Sedangkan Roblox menjadi simbol revolusi user-generated content (UGC) — tren di mana pemain menjadi kreator.
Platform seperti Minecraft, Fortnite Creative Mode, dan bahkan Core Games meniru model Roblox karena terbukti berhasil menciptakan komunitas global yang aktif dan mandiri.

Dengan kata lain, tanpa The Sims dan Roblox, dunia game modern tidak akan sekreatif dan seinteraktif seperti sekarang.


Kesimpulan: Dua Jalur Menuju Dunia Virtual

Kalau kamu melihat perjalanan panjang keduanya, The Sims dan Roblox sebenarnya berjalan di dua jalur yang berbeda, tapi menuju tujuan yang sama: menjadikan dunia virtual sebagai cermin dari imajinasi manusia.

Keduanya telah berevolusi dari ide sederhana menjadi ikon budaya global, membentuk cara generasi baru bermain, belajar, dan berkreasi.
Dan kini, di era digital yang semakin terhubung, masa depan simulasi tampaknya akan menggabungkan keduanya: realisme emosional ala The Sims dan kebebasan kreatif ala Roblox.

Jadi, ketika kamu bermain The Sims untuk membangun kehidupan impian atau menjelajahi dunia buatan temanmu di Roblox, sebenarnya kamu sedang menjadi bagian dari sejarah panjang evolusi dunia virtual — sejarah di mana pemain bukan lagi sekadar penonton, tapi pencipta kehidupan digital mereka sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *